Akreditasi Perpustakaan Ala Millenial Milik Ubaya

Kamis, 31 Oktober 2019 Perpustakaan Universitas Surabaya (Ubaya) kedatangan tamu istimewa. Tiga asesor dari Lembaga Akreditasi Perpustakaan Nasional RI yaitu, Dra. Zuniaty Nasrul, MLS, Drs. Supriyanto, M.Si., serta Sri Rizki Pudji Lestari, S.Sos., berkunjung untuk melakukan visitasi dalam rangka penilaian akreditasi perpustakaan Ubaya. Bertempat di Gedung Perpustakaan Lantai 2, Kampus II Ubaya Tenggilis, acara dihadiri oleh Ir. Benny Lianto, MMBAT., selaku Rektor Ubaya beserta jajarannya, serta Amirul Ulum, M.IP., selaku Direktur Perpustakaan Ubaya beserta jajarannya, serta Dr. Hazrul Iswadi, S.Si., M.Si., selaku Sekertaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Ubaya.

“Kami menyambut dengan senang hati dan mempersilahkan Asesor untuk melakukan proses akreditasi perpustakaan Universitas Surabaya,” ucap Benny sembari menyapa kedua asesor dan seluruh tim nya. Sambutan ini juga diterima baik oleh Drs. Supriyanto, M.Si., salah satu asesor Lembaga Akreditasi Perpustakaan Nasional RI. Beliau menceritakan secara singkat tentang Perpustakaan Nasional Indonesia yang bertempat di Jakarta. Beliau juga menyampaikan pesan dari Kepala Perpustakaan Nasional Indonesia, Drs. M. Syarif Bando, MM., kepada Ubaya. “ Jika berkunjung ke Jakarta mohon berkunjung di Perpustakaan Nasional Indonesia,” ujarnya dengan ramah.

Tahap penilaian akreditasi turut dibahas saat itu. “Hari ini kami hanya bisa memberikan penilaian akreditasi sementara dan untuk ketetapannya akan kami rapatkan di tim pusat akreditasi, oleh sebab itu kami mohon diberikan bekal dan bukti-bukti yang kuat untuk bisa kami rundingkan di pusat nanti,” jelasnya. Asesor pun menjelaskan beberapa tahap-tahap dan pembagian tim yang akan dilakukan untuk mempermudah proses akreditasi beberapa hari kedepan. Memang, kunjungan asesor kali ini adalah kunjungan pertama kali semenjak Perpustakaan Ubaya direnovasi. Tim asesor pun tampak menikmati proses berkeliling yang memperlihatkan segala fasilitas ala millenial yang mewarnai setiap sudut perpustakaan. (RE3, jr)

FPPTI, ISIPII, FPKI Dan Ubaya Gelar Konferensi Nasional Pustakawan

Universitas Surabaya (Ubaya) bersama dengan Forum Perpustakaan Khusus Indonesia (FPKI), Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), dan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur,ajak ratusan pustakawan Indonesia ikuti Konferensi Nasional Kepustakawanan Indonesia (KNKI) bertajuk “Big Data: Kolaborasi dan Praktik Kebijakan Institusi dalam Meningkatkan Kualitas Kebijakan dan Riset”.

Konferensi Nasional Kepustakawanan Indonesia menjadi wadah bagi anggota pustakawan Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan Lembaga-Lembaga dalam berbagi informasi dan mengelola data untuk kebutuhan masyarakat.

“Tujuan konferensi ini guna meningkatkan kompetensi pustakawan atau pengelola informasi di Indonesia terkait pengembangan Teknologi Informasi, agar siap menghadapi era revolusi industri dan big data. Data perlu dikelola dengan baik agar memiliki nilai yang strategis, baik untuk riset, pengambilan kebijakan dan penunjang pembelajaran, serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkas Amirul Ulum, S.Sos., M.IP. selaku Direktur Perpustakaan Ubaya sekaligus Ketua FPPTI Jatim, Rabu(24/4).

Konferensi dibuka dengan pemaparan materi oleh dua pembicara. Pembicara pertama Drs. Teguh Purwanto, S.IP., M.Si. selaku Kepala Pusat Jasa dan Layanan Perpustakaan Nasional RI memaparkan materi “Keterlibatan Perpustakaan dalam Penerapan Satu Data: Perspektif Undang-Undang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam”.

Selanjutnya materi “Big Data: Kolaborasi dan Praktik Kebijakan Institusi dalam Meningkatkan Kualitas Kebijakan dan Riset” disampaikan oleh Yanuar Nugroho, Ph.D selaku Deputi II Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Sosial, Ekologi, dan Budaya. Pemaparan materi dimoderatori oleh Imam Budi Prasetiawan, S. S., M.I.Kom.

Setelah pemaparan materi berakhir, peserta melanjutkan kegiatan workshop dan outbond bersama dengan Munas FPKI dan Munas ISIPII di Ubaya Training Center (UTC) hingga 26 April 2019. “Melalui pembekalan yang ada, saya harap anggota pustakawan dan pengelola informasi mampu memberikan kontribusi pengelolaan yang lebih baik. Sehingga nanti ketika data sudah masuk, perpustakaan dapat benar-benar dimanfaatkan sebagai pusat data yang bermanfaat dan memberikan informasi yang bernilai,” ungkap Amirulselaku Ketua Penyelenggara. (mad)

Buat Museum Temporary Di Perpustakaan Kampus

Cyntia Handy begitu mencintai hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Indonesia. Dia ingin anak-anak muda lain merasakan hal serupa dengannya. Supaya bisa ikut melestarikan kekayaan Nusantara.

CYNTIA Handy dengan telaten menjawab satu per satu pertanyaan pengunjung Museum Terakota pada Jumat (25/5). Itu merupakan museum temporary di lobi Perpustakaan Universitas Surabaya (Ubaya). Ada 820 item yang dipajang. Semua tentang Kerajaan Majapahit. ”Sebagian besar asli. Hanya beberapa yang replika,” ujar putri pasangan Willy Handy dan Ipo Khairani itu. Perempuan 20 tahun tersebut merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya yang juga bergelut sebagai penggiat sejarah dan budaya. Saat ini dia menjabat direktur Museum Gubug Wayang di Mojokerto. Beragam inovasi diciptakan untuk mengajak anak-anak muda mengenal sejarah. Salah satunya mendirikan museum temporary di kampusnya itu. ”Saya ingin yang saya rasakan bisa dinikmati orang lain,” kata pemenang Gus Yuk Kota Mojokerto 2015 tersebut.

Jika anak muda zaman sekarang lebih menyukai hang out atau aktivitas lain yang kekinian, Cyntia lebih memilih menekuni sejarah dan budaya. Hal itu dilakukan sejak kecil. Padahal, tidak ada sama sekali yang bergelut di bidang tersebut di keluarganya. ”Keluarga saya background-nya entrepreneur,” ujar gadis yang ngekos di daerah Tenggilis itu.

Hingga dia bertemu dengan Yensen, pendiri Gubug Wayang Yensen Project Mojokerto. Pertemuan tersebut memberikan insight baru bagi Cyntia. Dia menemukan tempat untuk menggali lebih dalam sejarah dan budaya Indonesia. Begitu juga dengan pemilik museum yang merasa klik dengan pemahaman Cyntia. Hingga akhirnya Cyntia dipercaya menjadi direktur Gubug Wayang tahun lalu.

Cyntia tidak ingin menikmati sendiri manfaat mengenal sejarah dan budaya Indonesia. Dia berharap bisa mengajak anak muda lainnya. Jika sudah kenal, mereka diharapkan bisa mencintai sejarah dan budaya Indonesia. Dengan begitu, anak muda ikut berperan melestarikan budaya. ”Suatu saat nanti negara akan bingung. Pegangan moral dan mental sangat penting. Semua itu ada pada kebudayaan. Sebab, budaya memiliki peradaban yang tinggi,” katanya.

Hari Kunjung Perpustakaan Jadi Momen Mengingatkan Pentingnya Perpustakaan

Bulan September dalam kalender nasional memiliki dua momen penting yakni dijadikan sebagai Bulan Gemar Membaca dan tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. Dua momen tersebut penting untuk mendongkrak minat baca buku masyarakat Indonesia. Minat budaya membaca buku sepatutnya ditanamkan sejak dini. Melalui membaca, cakrawala berpikir seseorang akan terbuka dan menyerap banyak ilmu pengetahuan. Minat baca akan memengaruhi kehidupan individu dan bangsa pada masa mendatang, juga pemahaman ekonomi untuk menentukan masa depan global. Di sinilah peran penting perpustakaan sebagai jembatan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca di Perpustakaan Universitas Surabaya Kampus Tenggilis disemarakkan dengan berbagai kegiatan seperti Lomba Menulis Ide tentang Perpustakaan Ubaya Masa Depan, Contest Photo Selphie mengambil area perpustakaan, pemberian amnesty atau penghapusan masa skorsing bagi mahasiswa yang terlambat mengembalikan buku, penambahan jumlah eksemplar buku yang dipinjam serta pemberian gift bagi pengunjung yang masuk perpustakaan paling awal dan paling akher pulang.

Acara tersebut yang awalnya dibuat mendadak ternyata mendapat respon positif dari mahasiswa terbukti dari banyak nya mahasiswa yang memanfaatkan kegiatan tersebut dan keikutsertaan mereka untuk bergabung di social media Perpustakaan Ubaya. Diharapkan kedepannya pengunjung akan lebih banyak memanfaatkan koleksi yang ada di Perpustakaan Ubaya tidak hanya pada bulan September saja, namun dapat juga mengimplementasikan dalam berbagai kegiatan.

Pustakawan Universitas Surabaya Terpilih Menjadi Ketua FPPTI Jawa Timur 2016-2019

Sejarah pendirian Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) bermula dari pemikiran Perpustakaan Nasional RI tentang format pembinaan perpustakaan Perpustakaan Perguruan Tinggi yang disampaikan pada rapat para Kepala Perpustakaan PTN dan PTS se Jawa pada tanggal 19-30 September 1999. Ide ini kemudian ditindaklanjuti dengan pendirian Forum Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi/FPPTI tanggal 12 Oktober 2000 di Ciawi Bogor. Saat ini terdapat 9 propinsi yang memiliki FPPTI di daerah, salah satunya adalah propinsi Jawa Timur. Kepengurusan FPPTI berlangsung selama 3 (tiga) tahun.

Pada tahun 2016 ini, FPPTI Jawa Timur menggelar agenda rutin berupa Musyawarah Daerah III yang diselenggarakan di STKIP PGRI Sumenep pada tanggal 21-23 September 2016. Selain agenda rutin Musyawarah Daerah juga diadakan Konferensi Call For Papers dengan tema Peranan Jejaring Perpustakaan dalam Peningkatan Kompetensi Pustakawan. Pemakalah konferensi berjumlah 35 pustakawan yang berasal dari perpustakaan perguruan tinggi dari daerah Lampung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Malang, Jember, Lumajang, Sidoarjo dan Surabaya. Pada acara Musyawarah Daerah III dipimpin oleh Steering Committee yang terdiri dari Johan Noor (Universitas Brawijaya), Mas Odi (STKIP PGRI Sumenep) dan Josefine Hira Eksi (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya) dengan agenda utama mendengarkan laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2013-2016 dan pemilihan ketua FPPTI Jawa Timur periode 2016-2019.

Kandidat Ketua FPPTI Jawa Timur adalah Amirul Ulum (Universitas Surabaya), Arif Y. Ismanto (Universitas Muhammadiyah Malang) dan Vincentius Widya Iswara (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya). Pemilihan Ketua FPPTI Jawa Timur dilakukan dengan pemungutan suara yang dihadiri 63 anggota yang mewakili perpustakaan perguruan tinggi yang menjadi anggota FPPTI Jawa Timur. Dari hasil pemungutan suara tersebut, Amirul Ulum memperoleh 30 suara, Arif Y. Ismanto 23 Suara dan Vincentius Widya Iswara mendapatkan 10 suara. Dengan perolehan suara tersebut, Amirul Ulum dari Universitas Surabaya terpilih menjadi Ketua FPPTI Jawa Timur periode 2016-2019.