Latar Belakang

Realitas yang terjadi sebagai dampak perkembangan teknologi informasi adalah pertambahan jumlah informasi yang melimpah pada setiap detik kehidupan. Keadaan ini tentu juga membawa dampak yang sangat signifikan terutama jika informasi tersebut menjadi tulang punggung sebuah organisasi dan membawa dampak yang menakutkan ketika informasi yang berlebihan harus membuat organisasi harus berfikir panjang dalam mengambil keputusan. Saat ini studi terbaru menunjukkan bahwa dua pertiga dari data atau 85% berasal dari dunia digital, data ini dibuat atau ditangkap oleh konsumen dan pekerja (Infogovt, 2018). Dengan kata lain, sebuah data digital memiliki peran dominan sebagai sumber informasi untuk itu sebuah organisasi perlu memiliki kendali atas informasi yang disimpan di dalam organisasi,akses visibilitas dan kontrol informasi yang berada di luar organisasi. Saat ini  situasi menjadi sedikit lebih baik bagi sebagian besar organisasi ketika mereka melihat secara internal, ketika wadah penyimpanan relatif murah, akses yang semakin mudah serta format yang semakin beragam. Kemudahan tersebut membawa implikasi kepada tata kelola informasi melalui aksesibilitas, pengelolaan serta efek yang diterjadi terhadap pelayanan publik. Aksesibilitas data saat ini dilakukan melalui kebijakan satu data. Satu Data adalah sebuah inisiatif pemerintah Indonesia untuk mendorong pengambilan kebijakan berdasarkan data. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka diperlukan pemenuhan atas data pemerintah yang akurat, terbuka, dan interoprable. Satu Data memiliki tiga prinsip utama yaitu, satu standar data, satu metadata baku, dan satu portal data. Dengan demikian, pemanfaatan data pemerintah tidak hanya terbatas pada penggunaan secara internal antar instansi, tetapi juga sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan data publik bagi masyarakat.

 

Sementara itu pengelolaan implementasi Internet of Thing (IoT) melalui big data telah manjadi kebutuhan setiap organisasi. Big data memiliki berbagai sumber yang menghasilkan sejumlah besar data dan sumber-sumber itu seperti situs web sosial facebook, twitter, google +, dan banyak lagi yang menghasilkan banyak data dalam satu hari dan data itu dalam bentuk video, gambar , tekstual, audio dan lainnya. Situs web pemerintah dan perusahaan swasta juga menghasilkan sejumlah besar data (Gondaliya, 2015). Beberapa perangkat ilmiah dan instrumen, media dan perangkat seluler, yang juga merupakan salah satu alasan yang menghasilkan sejumlah besar data. Big data mempunyai tantangan utama dalam menganalisis, menyimpan dan memvisualisasikan setiap proses atau hasil akhir sebuah data, bukan hanya tantangan untuk organisasi atau perusahaan. Perlu adanya pembahasan khusus bagaimana menghadapi tantangan ini menggunakan berbagai alat big data.

 

Dampak dari aksesibilitas dan big data mempengaruhi interaksi antara individu dan organisasi sehingga peluang inovasi terbuka atau Open Inovation semakin terbuka. Open Innovation merupakan sebuah pernyataan yang menyatakan sebuah perusahaan harus menggunakan ide-ide yang bukan lagi hanya dari internal (kelompok atau perusahaan tersebut), tapi kita bisa menggunakan ide-ide dari eksternal, yang berasal dari hasil pemikiran orang-orang di luar sana, dengan cara yang bervariasi.
Untuk itu, pengelola informasi perlu memiliki strategi marketing yang kuat agar data-data yang dikelolanya selalu dapat disadari keberadaannya oleh para pimpinan, stake holder dan masyarakat pengguna yang membutuhkan berbagai data, informasi, dan pengetahuan yang dimiliki lembaga informasi. Walaupun para pimpinan menyadari pentingnya ada lembaga atau profesional yang mengelola data, informasi dan pengetahuan yang dimiliki institusinya, namun tetap saja dianggap lembaga informasi, seperti perpustakaan, dianggap membebani anggaran, terlebih ketika terjadi restrukturisasi dan kesulitan anggaran. Untuk itu, kemampuan strategi marketing yang handal sangat dibutuhkan pengelola informasi agar keberadaannya benar-benar dibutuhkan organisasinya, bahkan memiliki kemungkinan untuk memperkuat nilai-nilai organisasi melalui lembaga informasi tersebut.

 

Tujuan Kegiatan

Rangkaian kegiatan Konferensi Nasional Kepustakawanan Indonesia, Munas ISIPII dan Munas FPKI ini bertujuan untuk:

  1. Menggali perkembangan baru dalam dunia perpustakaan, informasi, teknologi informasi, dan arsip dari para pakar, pengelola, pemerhati,pengajar, dan praktisi perpustakaan dan informasi.
  2. Menghasilkan luaran yang dapat bermanfaat bagi perkembangan perpustakaan, teknologi informasi, pengelolaan dokumen dan kearsipan diIndonesia.
  3. Persetujuan mengenai Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Rencana Kerja, dan kepengurusan FPKI.
  4. Persetujuan mengenai Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Rencana Kerja, dan kepengurusan ISIPII.

Peserta

Peserta kegiatan Konferensi, Workshop (Training), terdiri dari:

  • Pimpinan/Pengelola Perpustakaan (Perguruan Tinggi, Sekolah, Khusus, Umum)
  • Pustakawan (PerguruanTinggi, Sekolah, Khusus, Umum), record specialist, TI dan
  • Arsiparis
  • Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasidan Arsip
  • Peneliti dan Tenaga Pendidik (Dosen) bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi
  • Pengelola Lembaga Informasi dan Dokumen
  • Masyarakat Umum Pemerhati Bidang Perpustakaan dan Informasi
  • Pengurus FPKI dan ISIPII

Khusus kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) FPKI dan Munas ISIPII, pesertanya adalah seluruh anggota dari masing-masing organisasi.

Konferensi Nasional Kepustakawanan Indonesia diselenggarakan oleh :

 

Mitra Kerjasama